0 Poin
Makanan cepat saji

Makanan Cepat Saji Bantu Pemulihan Olahraga

Selama ini makanan cepat saji dianggap sebagai suatu masalah, nyatanya tidak selalu. Menurut studi baru di International Journal of Sport Nutrition and Exercise Metabolism menemukan bahwa makanan cepat saji sama baiknya untuk resintesis glikogen yaitu fase pemulihan pasca-olahraga.

Peneliti coba mengukur sejumlah besar variabel yang terkait dengan pemulihan dari kolesterol darah hingga kandungan glikogen otot paha hingga kinerja uji waktu  dan tidak dapat menemukan perbedaan yang signifikan antara kedua pendekatan pengisian bahan bakar.

Dalam studi tersebut, 11 atlet rekreasi melakukan dua tes latihan terpisah pada sepeda statis. Setelah menyelesaikan perjalanan selama 90 menit yang mencakup beberapa interval yang sulit, mereka menjalani biopsi otot untuk mengukur tingkat glikogen yang sekarang habis. Selama empat jam berikutnya, mereka diminta duduk beristirahat sambil mengonsumsi dua makanan, baik cepat saji maupun makanan olahraga. Setelah empat jam dan biopsi kaki lagi, atlet menyelesaikan uji waktu 20 kilometer sebagai tes kinerja untuk mengkonfirmasi resintesis glikogen mereka.

Semua subjek penelitian mengikuti kedua protokol makan makanan cepat saji setelah olahraga atau makanan olahraga setelah olahraga  dalam prosedur acak dengan istirahat seminggu di antara tes. Mereka diberitahu tentang dua jenis makanan yang mereka konsumsi dan dapat melihat semua kemasan, kotak, dan label.

Semua makanan mengandung sekitar 70 persen karbohidrat dan 10 persen protein. Baik protokol makanan cepat saji maupun protokol makanan non cepat saji memasukkan jumlah karbohidrat, protein, lemak, dan kalori yang hampir sama. Para peneliti menemukan bahwa kedua protokol menghasilkan tingkat yang sama dari resintesis glikogen, respons glukosa, respons insulin, respons kolesterol, dan kinerja uji coba.

"Hasil kami menunjukkan bahwa makanan cepat saji, dalam jumlah yang tepat, dapat memberikan potensi yang sama untuk glikogen otot seperti produk nutrisi non cepat saji yang mungkin harganya lebih mahal dan sehat," kaya ketua peneliti, Brent Ruby.

Pelari dan ahli gizi Bosto, Nancy Clark juga mengatakan studi baru ini tidak mengejutkan. Menurutnya komposisi karbohidrat dan protein menawarkan rasio yang cukup tepat.

"Data ini menunjukkan bahwa pilihan makanan jangka pendek untuk memulai resintesis glikogen dapat mencakup pilihan makanan yang biasanya tidak dipasarkan sebagai produk nutrisi olahraga seperti menu makanan cepat saji," Ruby menambahkan.

(Foto : pixabay)

BAGIKAN KE MEDIA SOSIAL

YesDok adalah layanan ehealth yang terjangkau dengan platform mobile yang mudah digunakan dan tangguh. Menembus 17.504 pulau dan 260 juta pengguna di Indonesia.

DMCA.com Protection Status

HUBUNGI KAMI

   

KONTAK
  Corporate Info :
info@yesdok.com
  Customer Service :
help@yesdok.com
FOLLOW US
   

COPYRIGHT ©2020 ALL RIGHTS RESERVED BY YesDok