0 Poin
Coronavirus

Hadapi Pandemi, Indonesia Perlu Berkaca dari San Francisco

Corona bukanlah satu-satunya virus yang mematikan. Tercatat, wabah Flu Spanyol pernah merenggut 50 juta jiwa di penjuru dunia pada 1918 silam. Di Amerika Serikat (AS) saja, pandemi ini merenggut hampir 700 ribu jiwa. 

Meskipun bernama Flu Spanyol, virus tersebut bukan berasal dari Spanyol. Hanya saja, Spanyol merupakan negara pertama yang mengumumkan temuan virus ini. Virus ini diyakini berasal dari dampak Perang Dunia I. Di mana dikatakan wabah ini berasal dari tentara yang kelaparan, kotor, sakit, sehingga menyebabkan imunitas lemah. 

Menurut para ahli epidemiologis kecepatan penyebaran Flu Spanyol mirip dengan Covid-19. Berbagai negara pun kini berupaya agar kejadian tersebut tidak terulang. 

WHO juga mengingatkan agar negara zona merah Covid-19 agar tidak terlalu dini melonggarkan jaga jarak sosial (social distancing). Hal tersebut dikuatkan studi Harvard yang mengatakan kemungkinan perlunya social distancing hingga 2022 demi turunkan risiko lonjakan pasien rumah sakit. 

Pelajaran Berharga dari Flu Spanyol

AS sebetulnya telah menerapkan karantina wilayah (lockdown) dan meminta warganya mengenakan masker. Departemen Kesehatan AS kala itu bahkan telah merancang SOP kesehatan yang dimana meludah sembarang tempat merupakan hal yang ilegal. 

Sayangnya ketika virus ini melambat di akhir 1918, beberapa wilayah AS justru mengendurkan praktik social distancing, salah satunya San Francisco. Warga San Fransisco pun mulai beraktivitas normal seperti sedia kala menyusul libur Natal dan Tahun Baru. Alhasil, yang terjadi justru lonjakan ganda pasien positif. Hingga 1919 Flu Spanyol telah menyerang 45 ribu jiwa di wilayah zona merah tersebut. 

Ada pesan menarik dari Flu Spanyol, wabah ini mengajarkan kita bagaimana melawan pandemi. Para ahli sepakat agar dunia jangan terlena dengan penurunan kasus. Social distancing tetap perlu dijaga untuk antisipasi gelombang kedua menghadapi suatu pandemi. 

Sekitar dua per tiga kematian Flu Spanyol adalah dewasa produktif berumur 18 hingga 50 tahun. Dengan kata lain wabah tidak mengenal usia. 

Saat ini dunia sedang berlomba menemukan vaksin corona. Selama itu maka tidak ada pilihan jika sosial distancing merupakan salah satu cara memutus peredaran wabah yang efektif. 

(Foto: freepik/dipshri)

BAGIKAN KE MEDIA SOSIAL

YesDok adalah layanan ehealth yang terjangkau dengan platform mobile yang mudah digunakan dan tangguh. Menembus 17.504 pulau dan 260 juta pengguna di Indonesia.

HUBUNGI KAMI

 

KONTAK
  Corporate Info :
info@yesdok.com
  Customer Service :
help@yesdok.com
FOLLOW US
   

COPYRIGHT ©2020 ALL RIGHTS RESERVED BY YesDok