Konsumsi Diet Kola, Sehatkah?

Siapa yang tidak ingin memiliki tubuh ideal, apalagi setelah lebaran yang umumnya setiap orang tergoda beragam menu masakan. Diet kola sepertinya jawaban atas kesegaran pelengkap menu lebaran tanpa harus memikirkan tambahan kalori. 

Sejauh ini minuman tersebut diklaim bebas gula dan bebas kalori jadi sungguh menggoda bagi pelepas dahaga di antara libur lebaran Anda. Tapi apakah diet kola tersebut benar-benar aman? 

Sebagaimana dilansir laman Times of India, sebuah penelitian menyebutkan bahwa pada diet kola terdapat campuran gula buatan, zat tambahan dan air berkarbonasi. Meskipun tidak memiliki kalori, nilai nutrisi di dalamnya tidak banyak. Kandungan kafein yang tinggi dapat menyebabkan lebih cepat dehidrasi dan membuat ketagihan. Zat aditif membuat diri Anda buang air kecil lebih sering yang juga menghilangkan mineral penting hingga efek kelelahan. 

Terlepas dari itu, aspartam yaitu pemanis buatan yang terkandung dalam minuman ini diketahui meningkatkan produksi sel-sel lemak serta menyebabkan peradangan. Penggunaan pemanis buatan tersebut dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah penyakit serius.

Pada kola tersebut terdapat bahan-bahan yang terdiri dari pemanis aspartam, asam fosfat, air berkarbonasi, warna karamel, natrium sitrat, natrium benzoat. Meskipun diklaim nol kalori,  sebenarnya faktanya berbanding terbalik. Zat kimia yang terkandung dalam minuman ini merangsang hormon rasa lapar yang meningkatkan nafsu makan dengan cepat. Ini juga mengubah reseptor rasa manis dan memicu respons dopamin di otak sehingga membuat kita sangat kecanduan. 

Minuman ini sangat terkenal di kalangan urban bahkan beberapa restoran cepat saji menawarkan pilihan ini. Mereka berpikir bahwa dapat menikmati kola tanpa tambahan kalori. 

Berkat berbagai penelitian, diet kola dibuktikan oleh berbagai penelitian yang fakta akhirnya merusak tubuh Anda dengan membuat Anda ketagihan. Beruntung Anda berada di era sehat adalah prioritas, di mana semua mempertimbangkan kembali apa yang layak dikonsumsi. 
 
"Mulailah perlahan berhenti minum minuman kola ini dan juga mengedukasi orang terdekat," tambah peneliti. 

(foto: people.com)

TAG TERKAIT
YesDok
konsultasi
tanyadokter
dokter
BukanDokterDokteran
DokterBeneran
Diet
Kola
Konsumsi kola
BAGIKAN KE MEDIA SOSIAL

YesDok adalah layanan ehealth yang terjangkau dengan platform mobile yang mudah digunakan dan tangguh. Menembus 17.504 pulau dan 260 juta pengguna di Indonesia.

HUBUNGI KAMI

 

KONTAK
  Corporate Info :
info@yesdok.com
  Customer Service :
help@yesdok.com
FOLLOW US
   

COPYRIGHT ©2019 ALL RIGHTS RESERVED BY YesDok

×

Halo

Nama Saya
Saya Adalah
di perusahaan
hubungi saya di +62
website perusahaan
E-mail saya di