0 Poin
Denyut jantung

Gelala Covid-19 Ringan Dikaitkan dengan Masalah Denyut Jantung

Kasus Covid-19 makin hari kian bertambah. Meski beberapa daerah kini perlahan menerapkan adaptasi “New Normal”, ancaman penyebaran virus ini tetap ada.

Yang terbaru, seorang pria di Amerika Serikat yang baru dinyatakan sembuh beberapa bulan lalu membuat geger dengan kisahnya yang viral di media sosial. Anthony Smith, yang juga seorang pekerja media ini menyebut jika ia masih memiliki masalah terkait jantung pasca pemulihan dan dinyatakan bebas Covid-19.

Smith mengatakan jika detak jantung normalnya hanya 80 per menit sebelum menderita Covid-19. Namun pasca Covid-19, ia mengeluhkan detak jantung normalnya melonjak 100 detak per menit di masa istirahat. Bahkan, Smith kerap terbangun di malam hari dengan 110 hingga 120 per menit.

COVID-19 adalah infeksi pernafasan yang disebabkan oleh novel coronavirus, yang juga kadang dikaitkan dengan gejala aneh seperti ruam kulit dan komplikasi seperti pembekuan darah. Jadi, apakah masalah detak jantung adalah sesuatu yang serius, masih jadi perdebatan hingga saat ini.

 
Bagaimana Covid-19 berdampak pada jantung?

Penting untuk dicatat bahwa COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus corona, ada banyak peneliti yang masih belajar lebih dalam terkait hal itu. Namun, ada beberapa bukti awal bahwa virus dapat menyebabkan masalah jantung bagi orang-orang.

Satu studi dari 187 pasien dengan Covid-19 yang diterbitkan dalam JAMA Cardiology menemukan bahwa hampir 28% dari mereka memiliki masalah jantung yang menyebabkan disfungsi jantung dan aritmia, yaitu detak jantung tidak teratur.

Ulasan lain dari penelitian American Journal of Emergency Medicine menganalisis 45 artikel tentang COVID-19 dan masalah jantun dan menyimpulkan bahwa dokter harus menyadari bahwa virus dapat menyebabkan "komplikasi kardiovaskular," termasuk peradangan otot jantung, gagal jantung, serangan jantung, detak jantung abnormal, dan gumpalan darah.

Mengapa ada hubungan Covid-19 dan detak jantung tidak teratur?

“Belum jelas sepenuhnya, tetap ada beberapa teori bahwa SARS-CoV-2 (virus yang menyebabkan COVID-19) dapat menyebabkan peradangan otot jantung, dan itu dapat menyebabkan penurunan fungsi jantung," kata seorang pakar penyakit menular di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins AS, Amesh A. Adalja.

Beberapa ahli mengatakan hal itu juga mungkin bahwa orang-orang mungkin lebih banyak duduk daripada yang mereka sadari sebelum dan setelah COVID-19, dan itu dapat mendera detak jantung mereka. Pengurangan jumlah langkah harian dan olahraga harian itu mungkin berdampak pada detak jantung.

Berapa lama potensi masalah jantung ini bertahan setelah Covid-19?

Menurut Adalja, denyut jantung yang tidak teratur, khususnya adalah gejala yang harus dicari penyebab yang mendasarinya. Hal tersebut bisa karena sesuatu yang sederhana seperti dehidrasi atau anemia.

“Kita bahkan tidak memiliki apa penyebab yang mendasarinya, akan tetapi gejala minor ini dipercaya akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu,” Adalja menambahkan.

(Foto: pixabay)

BAGIKAN KE MEDIA SOSIAL

YesDok adalah layanan ehealth yang terjangkau dengan platform mobile yang mudah digunakan dan tangguh. Menembus 17.504 pulau dan 260 juta pengguna di Indonesia.

DMCA.com Protection Status

   

INDONESIA
SINGAPORE
YesDok Pte. Ltd.
LAYANAN PENGADUAN KONSUMEN
  Customer Service :
help@yesdok.com
 
Direktorat Jendral Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga-Kementerian Perdagangan RI
: +6285311111010
KONTAK
  Corporate Info :
info@yesdok.com
PANDUAN
FOLLOW US
   

COPYRIGHT ©2022 ALL RIGHTS RESERVED BY YesDok